Kami Menangis

Posted: 10/01/2005 in My Folder
Tag:

Dentum senjata canggih seraya tergeletak tubuh yang terkoyak, mungkin tidak seberapa mengagetkan dan mengerikan rakyat Aceh sebagaimana yang terjadi Minggu pagi, 26 Desember 20004. Tsunami tanpa ampun telah menggulung habis pantai utara dan barat Aceh, melibas dan meluluhlantakan ribuan perumahan dan bangunan kota dan desa Nangroe, dan yang lebih menyayat hati insan manusia bernurani, Tsunami  dengan ganas telah pula menghempaskan ribuan nyawa manusia, tergeletak dan berserakan dimana-mana.

            Ya Tuhan,

hati manusia mana yang tidak lirih menyaksikan pemandangan onggokan  balita mungil nan jelita terserak direruntuhan rumah, tergeletak di dipinggir-pinggir jalan, tertelungkup hanyut di alur air selokan. Nurani manusia mana yang tidak menangis melihat rintihan seorang ibu memeluk bayinya yang sudah kaku, yang padahal beberapa menit sebelumnya digendong dan disusuinya dengan penuh kasih sayang. Insan mana yang mampu menahan rasa sedihnya melihat seorang ibu tersdu-sedu karena kehilangan anak-anak dan suaminya, menyaksikan seorang bapak tertunduk bersanggakan lutut sambil mengenang kegagalannya meraih anak-anak dan istrinya dari terjangan ombak setinggi rumah mereka;  serta, hati siapa yang tidak pilu melihat linangan mata anak-anak yang menangis sambil memanggil ayah-bundanya yang sudah tewas digilas ombak?

Seluruh warga bangsa larut dalam kepedihan yang mendalam, titik pusat perhatian seakan tidak pernah lepas sedetikpun dari media massa, baik elektronik maupun cetak. Rasa kesetiakawanan dan senasib sepenanggungan menggumpal keras dan jauh melintas dari batas kebangsaan, keagamaan, suku dan budaya. Naluri fitrah manusia menyatupadu dalam nestapa rakyat Aceh. Tayangan-tayangan live maupun recorded tentang detik-detika dahsyatnya Tsunami menyapu dan menggulung apa saja yang ada di depannya serta tantang bagaimana seseorang yang berusaha survive menyelamatkan diri yang direkam amatir yang selamat, semakin memperjelas hati nurani kita bahwa apa yang rakyat Aceh dan sekitarnya rasakan adalah kesediahan seluruh rakyat Indonesia.

Jelas musibah Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam bukanlah sebuah bala atas dosa-dosa rakyat Aceh, tetapi wujud kasih sayang Allah Yang Maha Besar yang tidak ingin membiarkan umat pilihanNya mengalami penderitaan panjang akibat berbagai kebijakan dan ulah korup para pengambil keputusan sekian puluh tahun ini. Serta, sebagai sebuah peringatan bagi kita semua bahwa kita adalah sebuah debu yang lemah dan tidak berdaya jika Tuhan ingin menmgambil nyawa kita.

TEGAR

            Musibah Tsunami telah merenggut sedikitnya 80.000 jiwa rakyat Aceh Nasnggroe Darussalam dan sekitarnya, serta ratusan atau mungkin ribuan yang lenyap tidak diketahui di mana rimbanya. Melalui media cetak dan elektronik, seluruh rakyat Indonesia dan mungkin masyarakat dunia, menjadi saksi mata bagaimana ganasnya gempa tektonik dan gelombang Tsunami merenggut ribuan nyawa manusia dan merontokan bangunan rumah dan gedung dalam waktu relatif cepat.

            Kita pula menjadi saksi mata tentang betapa rakyat Aceh gagah perkasa menghadapi bencana terbesar di dunia itu. Dari layar kaca televisi, kita bisa menyaksikan mereka mampu tegar menceritakan kepada reporter televisi hal ikhwal tewasnya istri dan anak-anak tercintanya; mereka tidak terlihat serabutan menerima bantuan makanan padahal mereka sudah demikian lapar dan dahaga karena sekian hari tidak makan; mereka sama sekali tidak menampakan keluh kesah yang berlebihan kepada pejabat negara atau reporter televisi yang mengunjungi mereka; bahkan mereka tidak kelihatan berkecamuk ketika mereka terpaksa mengambil dan membagikan bensin dari tanki yang terdampar tak bertuan.

            Rakyat Aceh memang gagah perkasa. Sejarah membuktikan, sejak jaman penjajahan, era orde lama, orde baru hingga masa reformasi sekarang ini, Nanggroe Aceh tetap tegar meski termarjinal dan setiap hari disuguhi kekerasan bersenjata. Ketika badai Tsunami yang maha dasyat menghantam, jiwa heroik nan satria tetap tegar di wajah mereka. Kami bangga menjadi saudara sebangsa dan setanah-air dengan Nanggroe Aceh Darussalam.

HIKMAH

…………………

Anugrah dan bencana

Adalah kenhendakNYa

Kita mesti tabah menjalani

Hanya cambuk kecil agar kita sadar

Adalah Dia di atas segalanya

Adalah Dia di atas segalanya (Ebiet G Ade, “Untuk Kita Renungkan”)

            Tsunami telah memberikan pelajaran yang banyak bagi kita tentang apa dan siapa kita sesungguhnya. Anugrah dan bencana bisa datang kapan dan dimana saja, bahkan mungkin jauh dari akal budi manusia. Kehidupan dan kematian adalah layaknya siang dan malam, pada saatnya kita akan menjemputnya sendiri atau dia yang akan menjemput kita.

            Haruskah persatuan dan kebersamaan  diawali dengan tumpah darah? Dari musibah Tsunami dan moment tahun baru Miladiyah 2005,  kita yakin bahwa persatuan, kesauan dan kebersamaan masih bisa dibangun lebih baik lagi, dan pondasi dari semua itu adalah berlaku adil dan tidak korupsi. Ketidak-adilan dan korupsi, selama ini jelas merupakan  duri perekat bangsa.

            Aceh, kami semakin sayang padamu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s