Arsip untuk Agustus, 2008

Ketika masa kampanya pemilu legislatif dan pemilihan presiden sedang berlangsung, hampir sebagian besar caleg dan capres mau bersusah payah berjibaku dengan pedagang sayur, pedagang kelontongan dan bahkan dengan pedagang ikan. Mereka bahkan rela memasang muka enjoy menikmati secangkir kopi di tengah bau tengik di dalam warung pojok.

Mengapa mereka rela melakukan itu? Karena mereka sadar bahwa di pasarlah sentra komunitas manusia dari beragam latar belakang berkumpul , dan mereka faham sekali bahwa di pasarlah mereka bias leluasa berdialog menggali masalah sekaligus berempati. Dan tentu saja mereka mengharapkan akan mendulang suara demi sebuah kursi empuk di legislatif.

Sekarang setelah tujuan tersebut tercapai, berbagai fasilitas sudah dinikmati dengan gaji dua puluh kali lipat — bahkan lebih — dari penghasilan pedagang ikan, di mana paras senyum simpul mereka?

EKSKLUSIF

Dalam suatu waktu ketika sedang menikmati secangkir kopi disebuah warung di pasar Lombok yang kumuh dan sumpek, penulis menangkap sebuah dialog terbuka antara tukang becak, buruh angkutan, dan para pedagang hampar (lapak). Temanya mulai dari soal melesetnya tebakan togel (kupon putih), semakin seretnya penghasilan, harga barang kebutuhan pokok yang cendrung naik, anak-anak mereka yang putus sekolah, sampai kepada masalah ikan air tawar yang semakin susah dipancing karena maraknya penangkap ikan dengan alat strum listrik.

Dari sejumlah tema dialog warung kopi itu, penulis mendapatkan beberapa kesimpulan:

  1. Mereka adalah orang-orang tegar dan survive, meskipun aneka gelombang derita hidup datang silih berganti.
  2. Mereka adalah manusia-manusia jujur, sederhana dan tidak banyak prasangka. Mereka beranggapan bahwa kesusahan hidup adalah sebuah takdir ilahi; jauh sekali dari karangka ilmiah hukum sebab akibat. Maksudnya, mereka hampir tidak beranggapan bahwa rusaknya negeri ini (susah mencari rejeki, lowongan pekerjaan yang sempit, dan tingginya biaya hidup) adalah karena sudah mengkristalnya pola hidup KKN hampir di semua lini lembaga penyelenggara negara. Mulai dari legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
  3. Dan yang terpenting, mereka apatis dan hampir tidak memiliki kepercayaan lagi dengan penyelenggara negara. Benang merahnya bisa ditarik dari ketidakpedulian mereka terhadap para wakil mereka di DPR/DPRD, yang padahal mereka memiliki hak untuk mengadu dari berbagai macam ketidakadilan dan ketidaknyamanan yang mereka terima akibat kesalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Setidaknya, tidak jauh meleset bila banyak yang beranggapan bahwa lembaga legislatif adalah sebuah lembaga eksklusif, tidak jauh berbeda dengan beberapa angkatan terdahulu. Dari sebuah tajuk harian yang terbit di Jakarta dikatakan, mereka masih saja bermental lama yang lebih melihat legislatif tempat mencari nafkah ketimbang tempat pengabdian.

PROAKTIF

Dari pilpres satu dan dua, jelas sekali rakyat sebetulnya menginginkan perubahan. Hal ini terlihat sekali dari mengentalnya dari mayoritas rakyat memilih Susilo Bambang Yodoyono. Perbuhan-perubahan yang berarti dan nyata, yang mampu memenuhi rasa keadilan dan perbaikan kesejahteraan.

Legislatif mestinya harus sensitif dan tanggap, kembalikan dukungan rakyat dalam bentuk pengawasan dan legislasi yang bermuara kepada kesejahteraan rakyat, bukan untuk kesejahteraan segelintir orang atau kelompok tertentu.

Metodenya bukan lagi dengan cara menunggu. Selama ini yang kita saksikan DPRD seringkali bertindak setelah media massa memberitakan atau setelah didemo oleh sejumlah masa. Legislatif seyogyanya mereka proaktif menggali dan menyelami sendiri permasalahan-permalasahan rakyatnya. Caranya antara lain, mengunjungi sentra-sentra komunitas masyarakat, di pasar, di bundaran besar (malam Minggu), di acara-acara tertentu seperti di Masjid, Gereja, kuil, dan bahkan di perkampungan-perkampungan kumuh.

Datang, ngaso, dan berdialog sebagaimana yang mereka lakukan ketika mencari simpatik memperoleh suara. Insya Allah, permasalahan-permasalahan riil masyarakat akan penuh sesak memenuhi tas kerja para anggota dewan yang terhormat. Kami tunggu Anda di warung pojok.

<

Iklan

PROPOSAL

STUDI TOUR KEPALA MTs

DI LINGKUNGAN KKM KOTA PALANGKARAYA

A. LATAR BELAKANG

SDM guru yang unggul menjadi tuntutan bagi kemajuan lembaga pendidikan, dan keunggulan akan tercapai bila guru mau berkerja keras belajar dan menggali pengalaman dari orang lain yang lebih maju. Banyak cara yang bisa dilakukan antara lain dengan diklat-diklat, training khusus bidang studi dan yang tidak kalah pentingnya adalah dengan menerjunkan langsung guru ke tempat-tempat atau sekolah yang sudah maju.

Belajar ke soklah-sekolah yang telah lebih dulu maju, akan banyak memberikan efek positif kepada guru, karena dengan melihat dan mempelajari langsung maka para guru akan lebih terbuka wawasan dan intlektualnya, sehingga ke depan guru tersebut mampu menerapkan konsep ideal yang telah dipelajarinya di lapangan. Lebih jauh lagi, maka pendidikan akan berkembang lebih maju lagi.

B. NAMA PROYEK

Proyek ini adalah STUDI TOUR KEPALA MTs SEKOTA PALANGKARAYA

C. TUJUAN DAN MANFAAT

1. Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah:

a. Membuka wawasan para Kepala MTs sekota Palangkaraya tentang konsep dan penerapan pendidikan bermutu.

b. Secara gradual dan terencana Kepala MTs Kota Palangkaraya mampu menerapkan konsep pendidikan bermutu di madrasah-madrasah yang dipimpinya.

c. Akan memajukan mutu peserta didik yang bersekolah di MTs khususnya, dan warga pelajar di Kota Palangkaraya umumnya.

2. Manfaat

Secara umum proyek ini akan memberikan manfaat secara langsung kepada peningkatan mutu siswa di Kalimantan Tengah, dan secara khusus akan turut membawa citra Kota Palangkaraya sebagai kota pendidikan.

D. TEMPAT TUJUAN

Direncanakan tujuan studi tour atau wisata belajar ini adalah di SLTP-SLTP (SMP dan Madrasah Tsanawiyah) yang berada dikota Medan. Dipilih Kota Medan karena kultur dan tradisinya memiliki banyak kemiripan dengan warga kota Palangkaraya.

E. PESERTA

Peserta yang ikut serta dalam studi tour ini adalah :

1. Kepala MTs sekota Palangkaraya = 15 orang

2. Pejabat terkait = 3 orang

Seluruhnya berjumlah 18 orang.

F. ANGGARAN DANA

Anggaran dana bersumber dari masing-masing sekolah peserta dan dari donatur atau bantuan Pemrintah Daerah. Adapun rincian biaya perjalanan (transportasi dan akomodasi) adalah sebagai berikut :

– Ticket pesawat P.Raya Medan (PP) =

– Transportasi Darat (di Medan) =

– Penginapan ( 3 hari ) =

– Makan pagi

– Makan siang dan malam

Jumlah = Rp. 200.000.000,-

Rincian Sumber Dana :

1. Masing-masing peserta Rp.1.000.000,- = Rp.18.000.000,-

2. Bnatuan Pemda = Rp.182.000.000,-

(Puasss…………!!!!!)

Demikian proposal ini kami buat, bla bla bla …………………………………..

CONTOH LAINNYA :

KOP SURAT

PROPOSAL

  1. LATAR BELAKANG

Kemajuan yang terjadi dalam berbagai bidang  kehidupan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam bidang pendidikan. Diantara pengaruh yang ditimbulkan dalam bidang pendiddikan itu diantaranya menyangkut  pola dan prilaku antara guru dan siswa, siswa dengan siswa lainnya baik dalam lingkungan sekolah maupun didalam lingkungan masyarakat, juga cara mengajar guru dan belajar siswa yang semakin hari perlu adanya inovasi dan kreasi untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Mengingat situasi dan kondisi yang seperti tersebut perlu kiranya para guru dan siswa diberikan pengenalan serta wawasan yang berbeda dari situasi yang dihadapi sehari-hari  melalui kunjungan ke sekolah – sekolah yang memiliki latar belakang serta kondisi yang berbeda dari sekolah mereka sendiri.

Mengingat situasi yang seperti itu kami dari SMP(SLUB) Saraswati 1 denpasar bermaksud untuk mengadakan karya wisata sekaligus studi banding ke beberapa sekolah yang ada di jakarta, bandung dan jogyakarta.

  1. TUJUAN

Melalui kegiatan karyawisata dan studi banding ini diharapkan para guru dan siswa

    1. Melakukan pengamatan terhadap situasi sekolah yang dikunjungi untuk selanjutnya melakukan perbaikan yang dianggap perlu.
    2. Memberikan suasana baru bagi guru dan siswa  sehingga mampu membangkitkan motivasi untuk meningkatkan kinerja mereka.
    3. Saling bertukar pengalaman bagi guru dan siswa dengan para guru dan siswa di sekolah yang dikiunjungi.
    4. Saling mempererat rasa persaudaraan sebagai sesama guru dan juga siswa demi tujuan yang lebih besar yaitu persatuan dan kemajuan bangsa indonesia.
  1. PESERTA

Peserta yang ikut dalam Karya wisata kali ini diikuti oleh anak anak dari kelas unggulan dan kelas pilihan,dengan tidak menutup kesempatan bagi siswa kelas lain yang berkeinginan untuk ikut serta .

  1. WAKTU

Kegiatan Karya Wisata (study banding) akan dilaksanakan pada liburan semester pertama pada bulan Desember yaitu tanggal :

  1. BIAYA

Untuk kegiatan Karya Wisata (study banding) masing masing peserta dikenai biaya sebesar Rp 1.300.000,00 untuk keperluan sesuai dengan jadwal kegiatan terlampir.

Mengetahui :                                                                    Denpasar, ………………..

Kepala                                                                            Ketua Panitia

SMP

…………………………………..                                              …………………………………..

KOP SURAT

Study Tour SMP (SLUB) Saraswati I Denpasar

Rute : Jakarta – Bogor – bandung – Yogyakarta

( Menginap 2 malam di Jakarta + 1 malam di Bandung dan transit 1 x di Yogyakarta )

Hari Jam Rogram Tour
I 01.00 Wita

06.30 Wita

11.30 Wib

19.00 Wib

Rombongan berangkat dari sekolah menuju Jakarta

Istirahat makan pagi di perjalanan (Restaurant)

Istirahat makan siang di perjalanan (Restaurant)

Istirahat makan malam di perjalanan (Restaurant)

II 05.00 Wib

07.00 Wib

18.00 Wib

Rombongan tiba di daerah Pemanukan – transit  (mandi,ganti pakaian , makan pagi) di restaurant

Setelah istirahat makan pagi, rombongan melanjutkan perjalanan ke Jakarta , tour ke  :

  1. Monumen Pancasila Sakti + makan siang (nasi kotak)
  2. Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
  3. Menonton di Theatre IMAX Keong Emas
  4. Monas

Selanjutnya rombongan diantar ke penginapan

Rombongan tiba di penginapan – istirahat makan malam – acara bebas

III 07.00 Wib

18.00 Wib

Istirahat makan pagi di Hotel

–         Selanjutnya rombongan mengadakan kunjungan ke salah satu SLTP di Jakarta + makan siang (nasi kotak)

–         Kunjungan ke Gedung MPR /DPR. RI

Setelah acara kunjungan selesai,rombongan diantar tour mengunjungi obyek wisata :

  1. Dufan – Ancol  (tiket terusan / semua permainan )
  2. Shoping di Mega Grosir Cempaka Emas

Rombongan kembali ke penginapan – istirahat makan malam – acara bebas

IV 07.00 Wib

11.00 Wib

12.00 Wib

16.00 Wib

Setelah istirahat makan pagi .C/O hotel, tour ke :

–         Taman Safari – Cisarua – Bogor

Setelah acara tour selesai rombongan melanjutkan perjalanan ke Bandung Via Puncak

Makan siang di daerah Puncak (nasi kotak)

Rombongan tiba di Bandung dan diantarkan langsung ke penginapan istirahat makan malam di penginapan – acara bebas

V 07.00 Wib

19.00 Wib

Setelah istirahat makan pagi C/O penginapan

–         selanjutnya rombongan mengadakan kunjungan ke salah satu SLTP di Bandung

Setelah acara kunjungan selesai, rombongan diantar tour mengunjungi obyek

  1. Museum Geologi + makan siang (nasi kotak)
  2. Pusat sepatu Cibaduyut – Bandung

Rombongan melanjutkan perjalanan pulang ke Bali + makan malam di perjalanan (restaurant)

VI 04.00 Wib

19.00 Wib

Rombongan tiba di Yogyakarta – transit (mandi,ganti pakaian, makan pagi) di hotel melati

Setelah istirahat makan pagi C/O hotel, tour ke :

  1. Keraton Yogyakarta
  2. Prambanan + makan siang (restaurant)
  3. Candi Borobudur
  4. Malioboro

Rombongan melanjutkan perjalanan pulang ke Bali + makan malam di perjalanan (restaurant)

VII 06.00 Wib

12.30 Wita

17.30 Wita

Istirahat makan pagi diperjalanan (restaurant)

Istirahat makan siang diperjalanan (restaurant)

Rombongan tiba di Sekolah – terima kasih

Biaya tesebut sudah termasuk :

  1. Bus AC (Non Toilet) + video + tape + makan sebanyak 20 kali
  2. Penginapan sekelas Wisma PHI,Desa wisata ( 1KMR = 4 – 8 orang) bed tingkat, kamar mandi di luar
    1. Tiket masuk ke obyek wisata + asuransi selama tour + obat obatan
    2. Penyeberangan + Tol + Parkir + Tour Leader disetiap bus

KOP SURAT

PANITIA

Penanggung Jawab : …………………………………….

Ketua : ………………………………………

Sekretaris : ………………………………………

Bendahara : ………………………………………

Anggota : ………………………………………                                                                      ………………………………………

………………………………………

………………………………………

Sumber : http://www.smp-saraswati-dps.sch.id/download.php

Ingin file word silahkan dowload di sini

Kemenangan gugatan PGRI atas tuntutan Anggaran Pendidikan sebesar 20% oleh Mahkamah Konstitusi yang kemudian ditegaskan pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan DPR RI adalah suatu yang menggembirakan bagi dunia pendidikan di Indonesia, namun itu bukan berarti kemenangan guru sebagai seorang professional. Masih banyak nuansa sumbang yang sangat mengganggu ritme profesionalitas guru sebagai ujung tombak pendidikan. Salah satunya adalah masalah kenaikan pangkat dari IV/a ke IV/b.

Persoalan jenjang kepangkatan dari IV/a ke IV/b dan seterusnya, laksana sebuah sebuah mitos. Di setiap ada forum-forum ilmiah sehubungan dengan masalah jenjang kepangkatan guru, maka hampir bisa dipastikan akan menjadi ajang pelampiasan unek-uneg guru dan ketika dari hati ke hati bertemu, maka jadilah kenaikan pangkat itu sebuah nyanyian indah. Terlalu banyak contoh kisah kegalauan guru untuk ditulis di halaman ini, tapi menarik untuk disimak sebuah pengakuan sang guru yang diungkapkan di sebuah blog pribadinya, “Angka kredit di bidang kami, yang rajin ngajukan yang cepet naik, yang rajin kerja malah tidak sempat ngurus saking ruwetnya. Tidak semua begitu, hanya gurauan di kalangan kami (termasuk saya) yang males ngurus aja. Beberapa temen bahkan berhenti jadi pns. Ada lagi kakak kelas saya seorang spesialis malah “krasan” IIId. Saya tiap kenaikan pangkat selalu telat, rata-rata 5 tahun. Kesalip terus sama yang lebih muda. Dari IVa ke IVb karya tulis 10 buku, sudah 1 tahun, alhamdulillah tidak ada beritanya. Akhirnya saya biarkan, sak karepe wong nduwuran…. Yang penting tetep nulis dan nulis bukan semata untuk naik pangkat.” (http://urip.wordpress.com)

SEBERAPA SULITKAH IV/b?

Dari jumlah 2,7 juta guru, sedikitnya 344 ribu yang menghuni golongan IV/a dan hanya 2.200 yang bisa naik ke golongan IV/b ke atas, dan yang menjadi kendala utamanya Karya Tulis Ilmiah (KTI). Hal itu diungkapkan Direktur Pembinaan Pendidikan dan Latihan (Diklat) Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas, Sumarna Surapranata, dalam Rapat Koordinasi PMPTK se-Indonesia di Gedung Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kerja (P4TK) IPA, Jln. Diponegoro, Bandung.

Kesimpulan secara statistik menyebutkan naik golongan ke IV/b sangat sulit. Bila diprosentasikan maka kurang dari 1 % yang bisa lolos. Merujuk ke Standar Kelulusan Minimum (SKM), maka dipatok berapa pun angka kelulusan akan sangat sulit bagi guru untuk menembusnya, kecuali guru-guru tertentu yang benar-benar aktiv dan kreativ, dan mungkin yang bernasib baik yang mampu mencapai IV/b.

Sebenarnya angka kredit (AK) kumulatif yang diperlukan seorang guru untuk naik ke IV/b 150 AK dan itu semestinya sudah dimilikinya bila sudah enam tahun menjalani Proses Belajar Mengajar (PBM). Namun demikian guru tidak serta merta dapat mengajaukan PAK (Penetapan Angka Kredit) karena bagi Guru Pembina (IV/a) hingga Guru Utama (IV/e) diwajibkan mengumpulkan AK dari pengembangan profesi sekurang-kurangnya 12 AK, di samping AK PBM.

Angka 12 diperoleh dari penulisan karya tulis ilmiah berupa penelitian, karangan ilmiah, tulisan ilmiah populer, buku, diktat, dan terjemahan, dan inilah rupanya biang segala problem. Ketrampilan mengungkapkan pikiran dalam bentuk tulisan memang bukan pekerjaan mudah. Kecuali memiliki sedikti bakat, yang terpenting adalah pembiasaan-pembiasaan serta harus berkabolorasi dengan kalangan perguruan tinggi yang sudah terbiasa dengan dunia penelitian. Bila bernasib baik, maka bukan hanya cost yang besar yang harus disediakan oleh guru, tetapi waktu dan tenaga yang panjang dan melelahkan akan pasti menjadi permasalahan lain. Lalu apakah harus mengorban siswa sebagai konsekwensi keseriusan total mengadakan penelitian, menyusun hasil penelitian, mengolah data, membuat laporan, mempresentasikan, memperbaiki dan lain sebagainya.

MENGAPA GURU ENGGAN

Keengganan sebagian besar guru mengurus kenaikan pangkat ke golongan IV/b bukan tanpa alasan. Banyak hal yang mempengaruhi sehingga seolah-olah guru-guru tersebut “betah” hingga pensiun di pangkat IV/a. Sepanjang yang penulis ketahui, persolan yang melatar belakangi tersebut antara lain adalah :

ü Banyaknya “nyanyian buruk” guru-guru yang pernuh mengurus naik pangkatnya yang berujung kegagalan. Selain sudah mengeluarkan banyak dana, mereka banyak kehilangan waktu dan tenaga, sehingga jadilah pengalaman mereka ini menjadi “lagu pilu” yang menyurutkan semangat bagi guru lain hingga akhirnya menjadikan mereka apatis.

ü Masih rendahnya penghargaan terhadap jenjang karier IV/b dan seterusnya. Selain tidak adanya jaminan kenaikan karier (antara lain menjadi Kepala sekolah/madrasah dan lain-lain), selisih jumlah rupiah yang diterima tidak setara dengan seriusnya seleksi penjenjangan. Dibandingkan dengan dosen, kenaikan tunjangan guru sangat tidak memadai.

ü Ketrampilan menulis memang tidak berbanding lurus dengan kemampuan guru menjelaskan pelajaran di depan kelas. Tidak sedikit guru yang terampil berkomunikasi dengan siswa di depan kelas, tetapi ketika disuruh menulis, maka semuanya seperti beku. Lebih-lebih membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang harus mengikuti aturan baku, sehingga tambah lengkaplah “penderitaan” jalur panjang menuju karier IV/b.

ü Karena malas. Pendapat ekstrim ini pernah terungkap ketika penulis berdiskusi dengan teman-teman “senasib” di forum bimbingan KTI di Banjarbaru. Meskipun ungkapan ini tulus dimaksudkan oleh Drs. Mawarni, M.Pd (sekarang sedang mempersiapkan IV/d) sebagai motivasi, penulis dan kawan-kawan menyadari sepenuhnya unsur malas ini bagai sebuah penyakit kronis bagi sebagian besar guru. Namun demikian, malas tentu ada sebabnya.

HATI NURANI

Dalam ilmu management disebutkan bahwa untuk membuat kinerja pekerja agar lebih optimal, maka salah satunya dengan cara furnish and rewards (hadiah dan hukuman). Dalam management pendidikan pun diajarkan agar guru senantiasa memberikan hadiah (dalam berbagai bentuk) kepada siswa yang telah berusaha keras, dan memeberikan hukuman (dalam berbagai bentuk) kepada siswa yang tidak bekerja keras atau yang melanggar aturan.

Hubungannya dengan karier kepangkatan guru, maka ilmu management kepangkatan saat ini tidak memberikan efek apa-apa. Kalaupun ada tambahan gaji bagi guru yang berhasil melewati tantangan intlektual ke IV/b atau lebih, maka nilainya sangat tidak masuk akal. Bayangkan bila hasil penelitian tadi adalah sebuah metodologi mengajar yang berhasil mendongkarak nilai siswa kemudian dipresentasikan dan dipakai oleh banyak guru, lalu pantaskah hasil penelitian tadi diberikan “reward” gaji pokok Rp.50.000,- / bulan dan berhak menyandang gelar IV/b?

Anggaran pendidikan sudah penuh 20% dan saatnyalah managemen pendidikan dibenahi dengan lebih rasional, proporsional dan dengan hati nurani. Andai kita khianat dalam mencerdaskan bangsa dengan anggaran 20% yang dahulunya dianggap hanya sebuah mimpi, maka mungkin bukan KPK lagi yang akan memborgol dan memasukan ke penjara, tetapi malaikat-malaikat Allah yang akan melumpuhkan lutut sehingga kita tidak bisa merangkak apalagi berjalan, memelintir bibir hinggga terpasung peot, menelantarkan tubuh merana di atas kasur tanpa daya bahkan sekedar mengedipkan mata pun, dan mungkin akhirnya akan mencabut roh dalam tubuh dengan paksa dan kasar yang sakitnya amat sakit. Wallahu’alam.

Banjir dan Kabut Asap

Posted: 17/08/2008 in My Folder
Tag:

Banjir dan kabut asap seperti simalakama. Dikala musim kemarau berlangsung, hampir semua orang mengharapkan cepat berganti musim hujan, karena memang kabut asap menyesakan dada dan membuat anak-anak terserang batuk dan flu berat, transportasi penerbangan macet total, di darat dan di sungai sering terjadi tabrakan, serta beragam dampak pengikut lainnya; namun begitu musim hujan tiba, kita sepertinya sudah lupa polusi kabut asap dan berharap segera saja berganti musim kemarau, karena banjir dan luapan air sudah mengganggu rutinitas sosial ekonomi masyarakat yang berimbas bergerak naiknya harga-harga bahan pokok makanan, serta yang lebih membahayakan lagi ancaman penyakit demam berdarah siap menyambar siapa saja.. Demikianlah, harapan berganti harapan seakan tak ada satupun musim dari dua musim yang cocok dan melegakan.

            Mengapa pilihannya begitu sulit? Apakah kita tidak punya hak pilih lain, selain banjir atau asap? Misalnya, dimusim hujan kita bisa menikmati udara segar tanpa debu, aspal-aspal jalan antar kota dan antar provinsi legam dan bersih karena air hujan sudah menyiramnya pagi dan sore, pohon-pohon tumbuh subur dan rindang karena kebutuhan airnya mencukupi, dan para petani pun bisa tersenyum puas karena hasil panennya berlimpah ruah.

            Demikian juga di musim kemarau, walaupun debet air turun menipis dan udara terasa panas, tetapi kita masih bisa berteduh di pohon yang rindang. Walaupun relatif berdebu tetapi, tidak ada kepul polusi asap; bahkan para pecandu mancing akan merasakan kenyamanan melempar dan menunggu patukan ikan di bawah naungan rindang pepohonan hutan.

            Walaupun logis tetapi semua itu sepertinya hanya sebuah mimpi indah, seiring musim berganti maka momok banjir atau polusi asap lagi-lagi menghantui setiap orang. Jika sudah demikian, maka seperti biasanya, berbagai teori, kritik pedas kritik asem, selusin solusi jitu, dan bahkan sumpah serapah, setiap hari mengisi lembaran-lembaran media massa. “Kambing hitam” pun dilempar kesana-kemari, dan sudah tentu semua orang tidak sudi menjadi “kambing hitam”, sekalipun kambing hitam itu sendiri.

PELAJARAN YANG TIDAK DIPELAJARI

            Dengan logika sesederhana apapun, petaka banjir dan kabut asap di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Tengah, bukan sama sekali murni disebabkan oleh gejala alam sebagaimana letusan gunung berapi atau gempa bumi dan Tsunami yang terjadi di Aceh, tetapi lebih banyak disebabkan ulah tangan manusia. Andaikan kabut asap dan banjir merupakan tamu tahunan, maka para nenek moyang kita dulu tidak akan mau merintis dan betah membangun kampung halamannya di bumi Tambun Bungai yang kita tempati ini.

            Pembaca tentu sudah hapal sekali teori hutan dan air, semakin tipis hutan maka semakin tebal luapan air. Jika dulu jarang sekali terjadi banjir, karena memang hutannya masih lebat. Demikian juga dengan bencana kabut asap, pepatah lama mengatakan “ada asap, ada api”. Kalau dulu petani membakar ladang baru dibatasi dan diantisipasi sedemikian rupa serta karena ketiadaan teknologi, tetapi kini orang membakar ladang / hutan karena ingin menghemat teknologi ( teknologi = uang ) dan cendrung dibiarkan meluas sehingga samakin hemat.

            Penulis tidak ingin lebih banyak berteori tentang sebab-sebab permasalahan di atas, namun fakta menandaskan, campur tangan manusia merupakan andil yang cukup besar menyebabkan “langgaganan” tahunan itu terjadi. Parahnya, kita sepertinya kehilangan akal mencari solusi demi mengatasi hal tersebut.

            Tidak enak bila hanya menunjuk satu pihak yang paling bertanggungjawab, karena ini persoalan bersama, tetapi mengharap ketua RT atau tokoh masyarakat memprakarsai upaya penanggulangan, rasanya sangat mustahil. Pemerintah pun memahami itu dan mereka benar-benar telah berupaya maksimal menanggulangi bencana langganan tersebut. Hanya faktanya, dua bencana dalam dua musim itu masih terus terjadi, bahkan cendrung meningkat setiap tahunnya. Sekarang trans Kalimantan (Tumbang Nusa atau di Sebabi Kotim) relatif lancar karena memang curah hujan menurun; demikian pula polusi asap musim kemarau yang lalu, menipis dan hilangnya karena siraman air hujan. Lalu dimana tempat hasil buah pikir manusianya?

            Hemat penulis, satu-satunya kelemahan kita adalah mengatasi masalah ketika masalah sudah di depan mata. Masalah banjir (mungkin) sudah tidak terlalu merisaukan lagi saat ini, tetapi upaya nyata, terencana, dan sistematis penanggulangan bencana (luapan air atau kebakaran lahan) untuk satu, dua atau lima tahun ke depan sepertinya “benyem”. Kalau demikian, maka catur wulan tiga tahun ini, bisnis masker merupakan proyek yang menggiurkan.