Banjir dan Kabut Asap

Posted: 17/08/2008 in My Folder
Tag:

Banjir dan kabut asap seperti simalakama. Dikala musim kemarau berlangsung, hampir semua orang mengharapkan cepat berganti musim hujan, karena memang kabut asap menyesakan dada dan membuat anak-anak terserang batuk dan flu berat, transportasi penerbangan macet total, di darat dan di sungai sering terjadi tabrakan, serta beragam dampak pengikut lainnya; namun begitu musim hujan tiba, kita sepertinya sudah lupa polusi kabut asap dan berharap segera saja berganti musim kemarau, karena banjir dan luapan air sudah mengganggu rutinitas sosial ekonomi masyarakat yang berimbas bergerak naiknya harga-harga bahan pokok makanan, serta yang lebih membahayakan lagi ancaman penyakit demam berdarah siap menyambar siapa saja.. Demikianlah, harapan berganti harapan seakan tak ada satupun musim dari dua musim yang cocok dan melegakan.

            Mengapa pilihannya begitu sulit? Apakah kita tidak punya hak pilih lain, selain banjir atau asap? Misalnya, dimusim hujan kita bisa menikmati udara segar tanpa debu, aspal-aspal jalan antar kota dan antar provinsi legam dan bersih karena air hujan sudah menyiramnya pagi dan sore, pohon-pohon tumbuh subur dan rindang karena kebutuhan airnya mencukupi, dan para petani pun bisa tersenyum puas karena hasil panennya berlimpah ruah.

            Demikian juga di musim kemarau, walaupun debet air turun menipis dan udara terasa panas, tetapi kita masih bisa berteduh di pohon yang rindang. Walaupun relatif berdebu tetapi, tidak ada kepul polusi asap; bahkan para pecandu mancing akan merasakan kenyamanan melempar dan menunggu patukan ikan di bawah naungan rindang pepohonan hutan.

            Walaupun logis tetapi semua itu sepertinya hanya sebuah mimpi indah, seiring musim berganti maka momok banjir atau polusi asap lagi-lagi menghantui setiap orang. Jika sudah demikian, maka seperti biasanya, berbagai teori, kritik pedas kritik asem, selusin solusi jitu, dan bahkan sumpah serapah, setiap hari mengisi lembaran-lembaran media massa. “Kambing hitam” pun dilempar kesana-kemari, dan sudah tentu semua orang tidak sudi menjadi “kambing hitam”, sekalipun kambing hitam itu sendiri.

PELAJARAN YANG TIDAK DIPELAJARI

            Dengan logika sesederhana apapun, petaka banjir dan kabut asap di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Tengah, bukan sama sekali murni disebabkan oleh gejala alam sebagaimana letusan gunung berapi atau gempa bumi dan Tsunami yang terjadi di Aceh, tetapi lebih banyak disebabkan ulah tangan manusia. Andaikan kabut asap dan banjir merupakan tamu tahunan, maka para nenek moyang kita dulu tidak akan mau merintis dan betah membangun kampung halamannya di bumi Tambun Bungai yang kita tempati ini.

            Pembaca tentu sudah hapal sekali teori hutan dan air, semakin tipis hutan maka semakin tebal luapan air. Jika dulu jarang sekali terjadi banjir, karena memang hutannya masih lebat. Demikian juga dengan bencana kabut asap, pepatah lama mengatakan “ada asap, ada api”. Kalau dulu petani membakar ladang baru dibatasi dan diantisipasi sedemikian rupa serta karena ketiadaan teknologi, tetapi kini orang membakar ladang / hutan karena ingin menghemat teknologi ( teknologi = uang ) dan cendrung dibiarkan meluas sehingga samakin hemat.

            Penulis tidak ingin lebih banyak berteori tentang sebab-sebab permasalahan di atas, namun fakta menandaskan, campur tangan manusia merupakan andil yang cukup besar menyebabkan “langgaganan” tahunan itu terjadi. Parahnya, kita sepertinya kehilangan akal mencari solusi demi mengatasi hal tersebut.

            Tidak enak bila hanya menunjuk satu pihak yang paling bertanggungjawab, karena ini persoalan bersama, tetapi mengharap ketua RT atau tokoh masyarakat memprakarsai upaya penanggulangan, rasanya sangat mustahil. Pemerintah pun memahami itu dan mereka benar-benar telah berupaya maksimal menanggulangi bencana langganan tersebut. Hanya faktanya, dua bencana dalam dua musim itu masih terus terjadi, bahkan cendrung meningkat setiap tahunnya. Sekarang trans Kalimantan (Tumbang Nusa atau di Sebabi Kotim) relatif lancar karena memang curah hujan menurun; demikian pula polusi asap musim kemarau yang lalu, menipis dan hilangnya karena siraman air hujan. Lalu dimana tempat hasil buah pikir manusianya?

            Hemat penulis, satu-satunya kelemahan kita adalah mengatasi masalah ketika masalah sudah di depan mata. Masalah banjir (mungkin) sudah tidak terlalu merisaukan lagi saat ini, tetapi upaya nyata, terencana, dan sistematis penanggulangan bencana (luapan air atau kebakaran lahan) untuk satu, dua atau lima tahun ke depan sepertinya “benyem”. Kalau demikian, maka catur wulan tiga tahun ini, bisnis masker merupakan proyek yang menggiurkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s