MENANTI LEGISLATIF DI WARUNG POJOK

Posted: 23/08/2008 in My Folder
Tag:

Ketika masa kampanya pemilu legislatif dan pemilihan presiden sedang berlangsung, hampir sebagian besar caleg dan capres mau bersusah payah berjibaku dengan pedagang sayur, pedagang kelontongan dan bahkan dengan pedagang ikan. Mereka bahkan rela memasang muka enjoy menikmati secangkir kopi di tengah bau tengik di dalam warung pojok.

Mengapa mereka rela melakukan itu? Karena mereka sadar bahwa di pasarlah sentra komunitas manusia dari beragam latar belakang berkumpul , dan mereka faham sekali bahwa di pasarlah mereka bias leluasa berdialog menggali masalah sekaligus berempati. Dan tentu saja mereka mengharapkan akan mendulang suara demi sebuah kursi empuk di legislatif.

Sekarang setelah tujuan tersebut tercapai, berbagai fasilitas sudah dinikmati dengan gaji dua puluh kali lipat — bahkan lebih — dari penghasilan pedagang ikan, di mana paras senyum simpul mereka?

EKSKLUSIF

Dalam suatu waktu ketika sedang menikmati secangkir kopi disebuah warung di pasar Lombok yang kumuh dan sumpek, penulis menangkap sebuah dialog terbuka antara tukang becak, buruh angkutan, dan para pedagang hampar (lapak). Temanya mulai dari soal melesetnya tebakan togel (kupon putih), semakin seretnya penghasilan, harga barang kebutuhan pokok yang cendrung naik, anak-anak mereka yang putus sekolah, sampai kepada masalah ikan air tawar yang semakin susah dipancing karena maraknya penangkap ikan dengan alat strum listrik.

Dari sejumlah tema dialog warung kopi itu, penulis mendapatkan beberapa kesimpulan:

  1. Mereka adalah orang-orang tegar dan survive, meskipun aneka gelombang derita hidup datang silih berganti.
  2. Mereka adalah manusia-manusia jujur, sederhana dan tidak banyak prasangka. Mereka beranggapan bahwa kesusahan hidup adalah sebuah takdir ilahi; jauh sekali dari karangka ilmiah hukum sebab akibat. Maksudnya, mereka hampir tidak beranggapan bahwa rusaknya negeri ini (susah mencari rejeki, lowongan pekerjaan yang sempit, dan tingginya biaya hidup) adalah karena sudah mengkristalnya pola hidup KKN hampir di semua lini lembaga penyelenggara negara. Mulai dari legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
  3. Dan yang terpenting, mereka apatis dan hampir tidak memiliki kepercayaan lagi dengan penyelenggara negara. Benang merahnya bisa ditarik dari ketidakpedulian mereka terhadap para wakil mereka di DPR/DPRD, yang padahal mereka memiliki hak untuk mengadu dari berbagai macam ketidakadilan dan ketidaknyamanan yang mereka terima akibat kesalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Setidaknya, tidak jauh meleset bila banyak yang beranggapan bahwa lembaga legislatif adalah sebuah lembaga eksklusif, tidak jauh berbeda dengan beberapa angkatan terdahulu. Dari sebuah tajuk harian yang terbit di Jakarta dikatakan, mereka masih saja bermental lama yang lebih melihat legislatif tempat mencari nafkah ketimbang tempat pengabdian.

PROAKTIF

Dari pilpres satu dan dua, jelas sekali rakyat sebetulnya menginginkan perubahan. Hal ini terlihat sekali dari mengentalnya dari mayoritas rakyat memilih Susilo Bambang Yodoyono. Perbuhan-perubahan yang berarti dan nyata, yang mampu memenuhi rasa keadilan dan perbaikan kesejahteraan.

Legislatif mestinya harus sensitif dan tanggap, kembalikan dukungan rakyat dalam bentuk pengawasan dan legislasi yang bermuara kepada kesejahteraan rakyat, bukan untuk kesejahteraan segelintir orang atau kelompok tertentu.

Metodenya bukan lagi dengan cara menunggu. Selama ini yang kita saksikan DPRD seringkali bertindak setelah media massa memberitakan atau setelah didemo oleh sejumlah masa. Legislatif seyogyanya mereka proaktif menggali dan menyelami sendiri permasalahan-permalasahan rakyatnya. Caranya antara lain, mengunjungi sentra-sentra komunitas masyarakat, di pasar, di bundaran besar (malam Minggu), di acara-acara tertentu seperti di Masjid, Gereja, kuil, dan bahkan di perkampungan-perkampungan kumuh.

Datang, ngaso, dan berdialog sebagaimana yang mereka lakukan ketika mencari simpatik memperoleh suara. Insya Allah, permasalahan-permasalahan riil masyarakat akan penuh sesak memenuhi tas kerja para anggota dewan yang terhormat. Kami tunggu Anda di warung pojok.

<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s