Arsip untuk September, 2008

SELAMAT DATANG BUNG RIBAN DAN MARYONO

Oleh : M. Irsani

Demokrasi telah memilih Riban dan Maryono untuk memimpin Palangkaraya lima tahun mendatang. Jika melihat jalannya hiruk pikuknya jalannya proses demokrasi beberapa waktu lalu, siapapun bisa menilai bahwa warga Palangkaraya sudah memiliki kecerdasan politik yang luar biasa, tidak ada kepongahan di pihak yang menang dan begitu juga tidak ada teriak kemarahan dari pihak yang kalah. Sama halnya ketika pemilihan Gubernur Kalteng yang sukses menghantarkan sang ahli hukum Teras Narang dan Diran menduduki kursi nomor satu di Kalimantan Tengah, tidak ada pesta kesombongan dari yang menang, dan begitupun tidak ada kemarahan atau caci maki di pihak yang kalah, semua ikhlas menerima dan pada akhirnya perbedaan bukan lagi persoalan tetapi menjadi sebuah pelangi yang indah karena perbedaan warnya. sungguh sebuah fenomena keceredasan politik yang jarang dimiliki di daerah lain di Indonesia.

Tidak jauh berbeda dengan Teras dan Diran, Riban dan Maryono terangkat secara akumulatif, sah dan mutlak. Pada awal kepemimpinan akan banyak menemui krikil tajam dengan berbagai bentuknya, dan biasanya isu-isu idiologi, ras, “selera” atau bahkan nilai track record sejak usia balita pun, berhembus simpang siur bagai angin puting beliung yang kalau tidak cermat menerimanya akan menjadi sebuah persoalan besar. Hal ini terjadi hampir dimana saja, bahkan di Amerika Serikat yang paling maju sekalipun – kemenangan Barack Obama pada konvensi Partai Demokrat yang diiringi embel-embel rasis oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab.

Hal tersebut terjadi sebagian karena sisa-sisa masa kampanye yang oleh oknum-oknum tim sukses yang sengaja dihembuskan sebagai upaya “nekat” mendongkrak suara di kalangan tertentu. Bentuk black campaign dan money politic memang masih menjadi “kelemahan” politik kita di Indonesia, dan kita harus bersyukur ternyata jauh lebih dewasa dari perkiraan banyak pihak.

TUGAS BERAT

Kita harus jujur mengakui bahwa pasangan almarhum Ir. Tuah Pahoe dan H. M. Saily Mochtar telah banyak membawa perubahan-perubahan sehingga kota Palangkaraya menjadi sejajar dengan ibu kota propinsi tetangga; akan tetapi manusia tidak ada yang sempurna. Bila kita ingin menjadikan Palangkaraya lebih maju dan lebih bermartabat lagi, maka Riban dan Maryano harus siap-siap dengan energi ekstra.

Menurut penulis sedikitnya ada dua hal besar yang menjadi kerangka dasar dalam membangun kota Palangkaraya. Pertama, kita harus memahami bahwa Palangkaraya merupakan kota yang terluas di Indonesia dengan luas wilayah 2.400.000 ha dan sebagian besar wilayahnya masih berupa hutan dan semak belukar. Selain posisinya jauh dari pesisir (cendrung berada di tengah hutan), ibu kota Kalteng ini tidak banyak memiliki industri. Kedua, 32% penduduk kota Palangkaraya masih terbelenggu kemiskinan. Dalam ilmu penelitian hasil statistik angka diistilahkan “dark number” yang artinya bisa saja kenyataan di lapangan lebih besar.

Berdasarkan dua fakta tersebut, maka secara sederhana kita bisa memeta permasalahan, yakni perkembangan kota lamban dan Lapangan pekerjaan sangat terbatas; sebagai akibatnya, maka dampak sosialnya akan berimbas dalam berbagai bentuk antara lain pengangguran terbuka atau tertutup akan semakin meningkat, para sarjana akan sulit mendapatkan pekerjaan yang layak, angka kriminalitas akan menaik, persaingan dunia usaha tidak sehat, perguruan tinggi setempat tidak lagi menjadi harapan dan mungkin yang lebih parah lagi generasi muda setempat akan semakin termajinalkan karena kualitas, link dan match almamaternya kalah bersaing dengan perguruan tinggi luar daerah.

Riban dan Maryono bukan saja dituntut perlu kerja keras dan persiapan mental yang tangguh, tapi yang sangat perlu adalah kemampuan untuk fokus. Fokus artinya siap melayani dengan bijak kebutuhan dan hak publik, namun tetap teguh dan kuat memegang visi dan misi pembangunan yang telah digariskan sebelumnya. Mungkin saja, dalam masa berjalan Riban – Maryono terjebak di tengah jalan oleh hembusan isu-isu sensitif lalu kemudian kehilangan fokus, maka bukan saja akan mementahkan tujuan mensejahterakan masyarakatnya, mungkin akan membuat Palangkaraya mundur jauh ke belakang.

Berdasarkan dua hal di atas, maka bung Riban dan Maryono harus memiliki visi dan missi yang jelas, transparan, berpihak kepada rakyat dan aplikatif. Setidak-tidaknya beberapa hal yang cukup menonjol yang harus dipertimbangankan antara lain, merobah pola pandang kebanyakan masyarakat tentang pendidikan yang cendrung bermuara menjadi PNS atau TNI/Polri; bekerja sama dengan perguruan tinggi setempat untuk membuat ruang pendidikan yang benar-benar mempunyai link, match dan aktual dengan persoalan kini dan yang akan datang; terus bekerja sama dengan Pemprop untuk membuka dan melancarkan isolasi daerah-daerah terpencil; dan yang paling terpenting Riban dan Maryono harus berani mesiasati dengan bijak beberapa regulasi pusat yang berhubungan dengan hasil hutan dan tambang.

MENJADI PNS

Disadari atau tidak, kenyataan di lapangan banyak orang tua atau warga yang menyekolahkan anaknya dengan motivasi kelak anaknya menjadi PNS atau kalau tidak menjadi menjadi TNI/Polri. Dan nampaknya Perguruan Tinggi (PT) sepertinya turut larut dengan harapan ini, maka menjamurlah fakultas keguruan di PTN dan PTS yang kalau dihitung-hitung peringkatnya sangat jauh melebihi kouta keperluan guru, belum lagi harus bersaing dengan alumni luar daerah yang lebih siap dengan kemandiriannya ditempatkan di pedesaan.

Bukannya fakultas keguruan tidak penting, tetapi kita banyak kehilangan event ketika kita membutuhkan ahli hukum, ahli eknomi, ahli pemerintahan, ahli lingkungan, ahli hutan, ahli tambang, ahli perkebunan, ahli menegement, ahli gizi dan masih banyak ahli-ahli lainya yang bisa diharapkan menjadi decision maker yang dikenal di daerah dan diperhitungkan di tingkat regional dan nasional.

HUTAN DAN TAMBANG TIDAK DINIKMATI

Terkait dengan hasil hutan dan tambang, ada sebuah pemandangan yang ironis sekali, dimana warga terpaksa harus membeli meja belajar anaknya bermerk Olympic, Alga, atau apapun yang diproduksi di Pulau Jawa, hanya karena harganya lebih murah dan tekstur kayunya lebih bagus dibandingkan dengan buatan pengrajin mebel setempat. Suatu kali penulis pernah membandingkan harga meja komputer di tukang mebel dan di toko penjual komputer, ternyata di toko komputer jauh lebih murah dibandingkan di pengrajin mebel. Penyebabnya sederhana, sang tukang tadi mengatakan karena sangat sulit mendapatkan pasokan kayu dan kalaupun ada harganya sangat mahal.

Ibarat kata pepatah “ayam mati di lumbung padi,” maka tidak heran saat ini banyak pengarajin mebel gulung tikar, masyarakat “dipaksa” membuat rumah beton yang produk penggiringnya sepuluh kali lipat harga rumah kayu, tukang kayu kehilangan pekerjaan, dan dan masih banyak lagi contoh-contoh di depan mata tentang peraturan illegal logging dan illegal mining yang kurang memperhatikan sisi potensi masyarakat setempat. Padahal disisi lain mereka disuruh konsumtif membeli produk jadi berupa furniture, aksesoris rumah tangga atau berupa produk tool yang sebagian besar diproduksi massal di luar daerah. Dengan bahasa sederhana penulis berironi, mengapa bukan di lumbung kayu saja produk tersebut diolah? Dengan demikian mining dan logging benar-benar bernilai ekonomis bagi warganya, mendatangkan manfaat bagi pemerintah daerah, dan sebagai ladang kesejahteraan masyarakat setempat.

KORUPSI

Seorang sahabat saya pernah mengatakan, Kalteng atau Palangkaraya sangat jarang sekali terdengar berita korupsi yang menasional, apa sebabnya? Apa karena Kalteng memang bersih dari korupsi? Lalu dia jawab sendiri bahwa yang senyap itu bukan berarti tidak atau sedikit korupsinya, bisa jadi karena ada kekompakan massal di sana. Penulis hanya berpikir sejenak, mungkin pendapat itu ada benarnya. Karena fakta sehari-hari jika berurusan dengan birokrat atau apalagi ingin mendapatkan banyak “manfaat” dari budget pemerintah atau ingin menjadi PNS/TNI/Polri, atau sekedar ingin mendapatkan KTP atau SIM, maka bila tanpa didukung sejumlah dana maka peluang itu menjadi sangat kecil atau bahkan mungkin tidak ada peluang.

Bung Riban dan Maryono sangat perlu menggaris bawahi persoalan ini. Masalah korupsi sekecil atau apalagi sebesar apapun adalah sebuah penghianatan yang sangat keji. Saya bukan seorang ahli menghitung kalkulasi eknomis dampak korupsi ini, namun sangat jelas orang yang paling dirugikan akibat korupsi ini adalah mereka tukang ojek, penjaja minyak keliling, pedagang tahu, penjual sayur, warung lontong, peternak ayam, petani singkong, penurih karet, supir angkot, kernet truk, penjaga parkir, tukang batu, penganyam rotan, pengrajin tikar rumbia, pengupas kulit bawang di pasar, penjala ikan sapat dan lain-lain yang anaknya sekolah di SD/MI, di SMP/MTs yang jika tidak ada perubahan maka mereka dipastikan menjadi “ahliwaris” pekerjaan orang tuanya.

Bagaimana mungkin orang kecil yang menanggung akibat korupsi? Bukankah yang dicuri uang negara yang tidak serupiah pun keluar dari kantong tukang ojek? Debat sahabat saya. Saya yakin sahabat saya ini hanya menguji atau memancing emosi, namun secara sederhana saya mengilustrasikan banyaknya kecelakaan lalu lintas yang terjadi sepanjang tahun tentu tidak lepas dari buruknya mutu dan standar lebar jalan, marka dan rambu-rambu yang seadanya, banyaknya SIM aspal yang mudah diperoleh tanpa harus mengerti aturan lalun lintas dan kemampuan berkendaraan. Mengapa itu semua bisa terjadi? Dan bukankah yang sering mengalami kecelakaan tadi mereka yang memproleh kendaraan secara kredit? Siapa mereka itu?

Akhirnya, kepada bung Riban dan Maryono, masyarakat sudah menjatuhkan pilihannya kepada Anda berdua untuk menahkodai Ibu Kota Kalteng ini, maka sekarang jagalah amanah tersebut dengan penuh tanggung jawab. Apapun keputusan yang Anda pilih tentu mesti bermuara kepada kepentingan masyarakat kecil. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkahi kepemimpinan Anda.

Oleh : M. Irsani

pada-ngapainElectronic Boook Pelajaran atau yang lebih dikenal dengan Buku Sekolah Elektronik (BSE) bisa diambil bebas alias gratis di situs milik Diknas atau situs-situs lain yang memanfaatkan free ebook untuk menaikan rank pengunjung di websitenya. Ini tentu sebuah terobosan luar biasa oleh Diknas untuk memajukan pendidikan di Indonesia, sebab BSE bukan ditulis oleh sembarang orang, tetapi melalui saringan super ketat dari guru-guru terbaik Indonesia yang kemudian dibeli royaltinya oleh pemerintah.

Berdasarkan pertimbangan selektifnya saringan dan fantastisnya harga royalti yakni Rp.100.000.000,- / buku – berdasarkan sayombara penulisan buku pelajaran oleh Diknas beberapa waktu lalu — maka tentu kualitas dan kualifikasi BSE tidak diragukan lagi. Penulis sempat mempelajari buku Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs dan memang buku tersebut mempunyai kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan buku-buku yang beredar dari beberapa penerbit saat ini. Sepintas (menurut penulis) ilustrasi buku ini lebih familiar dengan kondisi siswa, khususnya siswa yang berada jauh dari pusat-pusat kota.

Sebagai seorang guru, penulis merasakan buku elektronik tersebut bagus untuk dijadikan buku pegangan guru dan siswa. Yang menjadi persoalan, benarkah BSE ini buku murah meriah yang bisa dengan mudah diunduh, diprint, dan kemudian dijadiikan sebuah buku manis yang enak dipandang dan memancing minat untuk dipelajari?

Jawabnya adalah fakta. Ya, fakta yang penulis saksikan sendiri di sekolah-sekolah melalui forum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), forum Kelompok Kerja Madrasah (KKM) atau forum-forum regional. “Mahluk” BSE hanya populer sebagai sebuah term baru dunia pendidikan. Secara signifikan belum ada guru/sekolah yang memakainya. Ada apa dengan buku yang katanya gratis atau murah ini?

PROBLEM BSE

Kenapa BSE tidak banyak dipakai yang padahal sangat mudah mendapatkannya. Guru atau siapapun yang ingin mengunduh (mendownload) tinggal duduk sebentar di warnet atau di internet sekolah atau bahkan di hotspot gratis (biasanya di balai diklat LPMP atau Depag dll). Rata-rata keceptan antara 15 – 30 kbps atau kira-kira 1 – 10 menit perbuku (± 2 Mb). Jadi kalau duduk satu jam maka kita bisa mendapatkan sedikitnya 6 buku. Jadi kalau dirupiahkan, maka satu buku hanya Rp.350,- (asumsi di warnet Rp.3.500,- / jam). Luar biasa murah.

Persoalan utama, ketika ebook tadi dijadikan dalam bentuk cetakan. Saya ambil contoh buku Bahasa Indonesia Kelas VII karangan Nia Kurniawati Sapari. Buku tersebut berjumlah 223 halaman. Bila diprint maka 223 X Rp.400,- (harga bisnis) = Rp. 89.200,- + Rp.2.000,- (biaya jilid), maka buku ini perbuahnya adalah Rp.91.200,- (kualitas print). Tetapi bila difotocopy 223 X Rp.150,- + Rp.2.000,- (jilid) maka harga perbukunya adalah Rp. 35.450,- (kualitas fotocopy).

Cara lebih murah lainnya adalah dengan mengconvert dari Pdf ke Word kemudian disetting dalam bentuk F4 (kertas ukuran folio) dengan spasi 1,25 maka buku tadi akan menjadi 100 halaman. Maka harga per bukunya adalah Rp.42.000,- (kulaitas print) atau Rp.17.000,- per buku dengan kualitas fotocopy. Harga ini mungkin bisa lebih murah lagi bila dicetak dalam jumlah besar dengan menggunakan percetakan semacam Risho atau percetakan modern lainnya.

Kendala yang pasti terjadi adalah tidak meratanya kemampuan menggunakan komputer di sekolah-sekolah nun jauh dari perkotaan atau bahkan dalam perkotaan sekalipun. Kemudian masalah harga fotocopy. Ambil contoh di Sukamara (salah satu Ibu kota Kapubaten di Kalimantan Tengah) harga fotocopy Rp.500,- / lembar, maka silahkan hitung sendiri berapa harga buku tadi per buahnya.

Mengacu ke Peraturan Mentari Pendidikan Nasional nomor 12 tahun 2008 tanggal 14 April 2008 yang menyebutkan bahwa Harga Eceran Tertinggi untuk buku tersebut adalah Rp.13.664,00, maka pengusaha fotocopy pasti akan angkat tangan, beberapa percetakan lokal pun yang sempat dihubungi penulis masih pikir-pikir dengan HET tersebut. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan 793 penerbit yang tergabung dalam IKAPI dan memiliki ribuan atau bahkan jutaan karyawan yang tentu pasti akan “brontak” mempertahankan bisnisnya.

Terlepas dari persoalan ruwetnya BSE, penulis yang kebetulan sedikit mengerti cara mensiasati BSE hingga menjadi bentuk buku yang paling sederhana dan murah (tidak berwarna), maka hemat penulis harga buku tersebut paling tidak Rp.17.000,-/buku. Namun kendalanya, sang guru harus berdebat dengan orang tua siswa karena mereka tahu persis guru tidak boleh jual buku dalam bentuk apapun; dan yang cukup mengganggu juga buku tersebut tidak berwarna (fotocopy atau black-white bukan greyscale) yang dalam beberap hal kurang komunikatif dan tidak menarik. Kadang gambarnya tidak jelas dan bila ada pilahan atau arsir yang menggunakan warna, maka jelas buku ini mentah.

APA BEDANYA

Bila membaca Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dinyatakan buku sebagai bagian dari pelayanan pendidikan dan pemerintah berkewajiban menyediakan buku teks bagi semua mata pelajaran di sekolah, maka BSE yang dicanangkan Diknas sebagai buku gratis sebagai perwujudan PP No.19 jelas sangat melenceng.

Kecuali bagi kalangan tertentu, BSE justru sama saja dengan buku-buku yang diterbitkan penerbit, bahkan dalam hal-hal tertentu lebih mahal. Melarang penerbit dan guru menjual buku di sekolah-sekolah sama sekali tidak menyelesaikan masalah, temuan penulis sendiri, dibeberapa sekolah penerbit dan guru justru tidak kehabisan akal dengan menyuruh orang tua siswa proaktif ke toko-toko buku tertentu atau di toko-toko buku dadakan yang ditunjuk penerbit – tentu saja dengan iming-iming rabat yang menarik. Alhasil, orang tua siswa lagi-lagi dibebani bahkan dengan biaya ekstra transportasi.

Ternyata BSE tidak murah dan tidak gampang.

Cinta Membingkai Puasa

Posted: 08/09/2008 in My Folder
Tag:

Hari ini adalah 45tahun yang lalu aku dilahirkan dari rahim Ibuku yang tercinta di Pangkalan-Bun, sebuah desa sejuk dan menyejukkan. Hanya satu pintaku “ya Allah ampunillah kedua orangtuaku, sayangi dan berkahilah hari-harinya, dan jadikanlah mereka orang-orang yang Kamu muliakan, amin” Subahannallah, Alhamdulillah, Allahukakbar

CINTA MEMBINGKAI PUASA

Oleh Arsil Ibrahim

”Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Sesungguhnya, bau mulut orang yang berpuasa lebih disukai Allah daripada harum minyak kasturi.” (HR Bukhari).

Kita ini ada di dunia karena diciptakan Allah. Bisa hidup karena diberi makan, minum, dan udara oleh Allah. Sungguh celaka jika terbetik niat lain sewaktu berpuasa, selain karena memenuhi kehendak dan perintah Allah.
Sungguh, berbeda dengan amal ibadah yang lain, kita merasakan getaran cinta Penguasa Alam Raya dalam perintah puasa ini. Getaran cinta dan kasih Allah itu dapat dirasakan pada hadis di atas.

Cobalah pahami bahasa hadis tersebut. Bukankah ini ungkapan cinta yang melimpah dari Allah kepada hamba-Nya yang berpuasa? Kita semua paham bahwa bau mulut orang yang berpuasa di manapun pasti sangat busuk. Itu wajar karena saat perut sedang kosong, asam lambung dapat memanjat sampai ke dinding mulut. Saat berbicara, menguap, atau bahkan sekadar membuka mulut langsung akan tersebar aroma yang membuat orang menutup hidungnya. Namun, bagi Allah, seseorang yang berpuasa telah mengorbankan makan, minum, dan syahwatnya hanya karena Allah. Allah sungguh cinta pada pengorbanan mereka. Dan, cinta itulah yang menjadikan bau mulut mereka dihargai Allah lebih wangi dari minyak kasturi.

Subhanallah, betapa besarnya cinta kasih Allah terhadap orang yang berpuasa. Banyak sekali amal perbuatan kita ini yang pahalanya dijanjikan Allah kepada kita secara kalkulatif. Contoh, shalat jamaah menaikkan derajat kita di sisi Allah hingga 27 derajat. Bersedekah dilipatgandakan Allah pahalanya hingga 700 kali lipat. Begitu pula shalat di Masjidil Haram yang pahalanya 100 ribu lebih utama dibandingkan shalat di masjid biasa. Semuanya dijanjikan Allah dalam hitungan-hitungan yang jelas. Tapi, untuk puasa, Allah mengungkapkan apresiasi-Nya yang tinggi. ”Puasa itu untuk-Ku dan biar Aku yang menganugerahkan pahalanya.” Bukankah ini sebuah ungkapan sentimental yang diwarnai dengan kecintaan?