Arsip untuk Maret, 2009

awas-bahaya-laten1KESRA– 25 MARET: Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) di tahun 2009 ini ikut mengawasi penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang berasal dari Anggaran Pendapat Belanja Negara. Pengawasan ini terutama di dalam audit alokasi pemanfaatan dana BOS di sekolah-sekolah.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah BPKP Perwakilan Jawa Barat Toto Suparman seusai Dialog Interaktif Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2009 tentang Pendanaan Pendidikan, Selasa (24/3).

Kegiatan ini diikuti ratusan pengelola dan penyelenggara SD-SMP swasta yang tergabung di dalam Forum Komunikasi Sekolah Swasta Kota Bandung.

“Bersama-sama dengan Itjen (Inspektorat Jenderal) Depdiknas RI, mulai 2009 ini, kami (BPKP) akan ikut mengaudit BOS Pusat. Akan kita audit sejumlah sekolah melalui sistem sampling,” tutur Toto Suparman.

Menurutnya, selain BPKP, lembaga pemerintah yang juga ikut mengawasi BOS Pusat adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pengawasan BPK terutama diarahkan pada pengelola BOS.

Di daerah, untuk BOS Provinsi atau Kota, ucapnya, peran pengawasan dilakukan Badan Pengawas Daerah. Meskipun lembaga yang mengawasi penggunaan dana BOS ini tidak sedikit, ucapnya, pihaknya berharap tetap ada sinergi antarlembaga ini.

“Esensinya, jangkauan pengawasan bisa lebih besar. Jika ada sekolah yang sudah diawasi, jangan lagi diperiksa. Jadi bertumpuk,” ucapnya berharap.

Terkait kondisi semakin ketatnya pengawasan dana BOS ini, pengelola sekolah diminta untuk semakin serius memerhatikan persoalan administrasi. Ada empat prinsip di dalam audit pengawasan BOS ini, yaitu tepat sasaran, waktu, jumlah, dan penggunaan.

“Perlu saya tekankan hati-hati dengan tepat penggunaan ini. Sebab, itu sering dikaitkan dengan penyimpangan. Misalnya, alokasi untuk bantuan transportasi siswa miskin, justru dibelikan LKS (lembar kerja siswa). Ini menyimpang,” ucapnya.

Gratifikasi

Di dalam kesempatan ini, Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Bandung Eko Sunarno mengatakan, munculnya PP 48/2008 memberi konsekuensi tidak lagi adanya pungutan di SD-SMP. Dana operasional harus dikelola secara transparan, efesien dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Cendera mata bagi guru PNS usai pembagian rapor bisa dikatakan gratifikasi. Ini juga harus dilaporkan,” tuturnya sambil dikomentari riuh para guru yang hadir.

Menurut Sekretaris Forum Komunikasi Sekolah Swasta Kota Bandung Sudayat, munculnya PP 48/2008 memaksa sekolah lebih serius menyusun administrasi keuangan. Apalagi, di tahun ini, tiap sekolah mendapat tambahan dua alokasi BOS yang bersumber dari pemerintah provinsi dan kota/kabupaten. Bendahara yang ditunjuk harus yang benar-benar. Tidak lagi bisa dirangkap guru biasa, ucapnya. (kp/hr)

Sumber:  Menkokesra

Iklan

Cerpen: Pulang Kampung

Posted: 24/03/2009 in My Folder

By : Fachruddin Mangun Jaya

kumaiSudah tujuh tahun aku tidak pulang, Aku rindu kampung halaman, mencium lagi semerbaknya bunga hutan, melihat rimbunnya semak di belakang rumah, ramainya kicau burung liar setiap bangun pagi, semuanya membangkitkan ingatanku kembali. Di belakang rumah panggung yang menjadi cirri khas rumah Kalimantan ada anak sungai yang mengalir deras dan dingin. Warna air kali kecil ini berwarna oranye kecoklatan seperti air teh. Hal ini terjadi karena pengaruh endapan serasah dan akar kayu-kayu hutan tropis di sebellah hulu sana.

Ketika musim hujan tiba, anak sungai ini meluap deras. Bersama teman-teman lain aku bersenang-senang menikmati alam: terjun bebas dari tebing pasir terjal menyebur ke sungai yang dalam. Lalu dengan sepotong papan, kami menghanyutkan diri, menggiring arus yang deras kearah hilir sungai. Hiruk pikuk bersama lima atau enam rombongan anak-anak membiarkan arus membawa kami beriringan (konvoi) sehingga berkilo-kilo jaraknya. Kami mandi mengobok-obok air.

selengkapnya…..

Cerpen ini sebenarnya  sebuah ungkapan faktual  kehidupan masa kecil anak-anak  kalimantan (tempat dimana aku kecil dan dibesarkan), dan benar-benar mengembalikan aku ke masa kecilku. Selamat dan terima kasih sahabatku bung Fachruddin

ngeblogJAKARTA – Ada kesempatan menarik bagi yang ingin pergi ke Belanda sekaligus belajar gratis. Neso Indonesia, lembaga non profit yang mewakili pendidikan tinggi Belanda di Indonesia, bekerja sama dengan dagdigdug menyelenggarakan kompetisi blog ”Studi di Belanda”.

Kompetisi yang terbuka untuk kalangan wartawan dan non wartawan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat umum mengenai studi lanjutan berbahasa Inggris di Belanda. Peluncuran kompetisi blog ini dihadiri oleh Direktur Neso Indonesia, Marrik Bellen, Antyo Rentjoko, perwakilan dari dagdigdug dan Raditya Dika, salah seorang juri, di Jakarta, Rabu (11/3).

“Untuk meningkatkan kesadaran studi di Belanda bagi masyarakat Indonesia, Neso mengikuti perkembangan perilaku pencari informasi studi di luar negeri. Kami melihat bahwa blog merupakan salah satu media alternatif yang efektif menyebarkan informasi,” Marrik Bellen, Direktur Neso Indonesia.

Melalui kompetisi ini lanjut Marrik Bellen, diharapkan masyarakat mengetahui dua hal utama berkaitan dengan kompetisi, pertama untuk studi lanjutan ke Belanda mereka tidak harus belajar bahasa Belanda lebih dulu. Kedua, kualitas dan reputasi pendidikan tinggi Belanda yang sudah diakui dunia.

“Laporan Times Higher Education Supplemen mencatat hampir 90% universitas Belanda berada dalam peringkat 200 universitas teratas.” Imbuh Marrik Bellen.

Pelaksanaan kompetisi blog ini juga bertujuan untuk memberikan ruang bagi masyarakat umum dan wartawan-wartawan dalam menyampaikan opininya mengenai pendidikan tinggi di Belanda.

Kompetisi blog ini dibagi dalam dua kategori yakni wartawan dan non wartawan dengan cara menuangkan opini mereka di blog pribadinya. Penjurian dilakukan berdasarkan kriteria kesesuaian dengan tema, isi dan popularitas posting. Neso Indonesia menggandeng dagdigdug sebagai salah satu penyedia blog hosting di Indonesia yang sudah memiliki reputasi di kalangan blogger.

“Blog adalah pilihan praktis untuk menampung dan menyiarkan karya tulis. Sebagai perusahaan yang peduli kepada pendidikan dan pengembangan diri, dagdigdug mendukung kompetisi ini sepenuh hati. dagdigdug juga ingin membuktikan bahwa ’ngeblog’ itu membawa banyak manfaat,” ungkap Antyo Rentjoko, salah satu pendiri dagdigdug yang juga seorang blogger.

Kompetisi ini terbuka bagi wartawan dan non wartawan yang memiliki blog pribadi dan berdomisili di Indonesia selama kompetisi berlangsung. Tema yang ditawarkan bagi kategori wartawan adalah ”Belanda sebagai negara tujuan studi” dan ”Studi di Belanda, ticket to a global community” untuk kategori non wartawan. Kompetisi akan berlangsung mulai 15 Maret dan berakhir pada 30 April 2009. Informasi lengkap mengenai syarat dan ketentuan serta cara mengikuti kompetisi ini bisa dilihat di http://kompetiblog.studidibelanda.com

Lebih lanjut mengenai kompetisi blog ”Studi di Belanda” Marrik Bellen mengatakan, pemenang dari masing-masing kategori akan berkesempatan mengikuti Summer Course selama dua minggu (6-17 Juli 2009) di Utrecht University Summer School, Utrecht, Belanda.

“Di sana mereka akan dapat merasakan langsung suka duka menjadi bagian dari mahasiswa internasional di Belanda, dan memperoleh referensi mengenai budaya dan identitas bangsa Eropa secara umum, Pemenang akan diminta untuk menuliskan pengalamannya selama di Belanda lewat blognya” paparnya.

Tahun 2008, Neso Indonesia mengundang Raditya Dika, blogger Kambing Jantan untuk mengikuti summer course dengan tajuk European Cultures and Identities di Belanda selama dua minggu. Pengalaman Radit selama berada di Belanda dituangkan dalam blognya dan memperoleh tanggapan yang sangat positif.

“Pengunjung blog saya pada saat itu meningkat sangat tajam, blog saya dikunjungi oleh kurang lebih 4000 pengunjung,” pungkas Radtya Dika./cr1/itz
info : Koran Republika

belajarPuluhan guru dengan setelan formal sejak pukul 09.00 Rabu (25/2) pekan lalu bergerombol sambil duduk di sekitar lapangan J9 UM, tepat di depan Sasana Budaya. Terdengar diskusi ringan di antara mereka. Namun tak lama. Beberapa waktu kemudian, mereka beranjak menuju ke basement gedung Sasana Budaya, tempat sekretariat PSG Rayon 15 UM. Mereka adalah peserta Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) yang membentuk komunitas dengan menamakan diri Forum Penuntut Keadilan (FPK) PLPG 2008. Kedatangan ke sekretariat Panitia Sertifikasi Guru (PSG) 15 Rayon Universitas Negeri Malang (UM) di basement gedung Sasana Budaya UM ini untuk melakukan aksi. Ini aksi yang kedua setelah pada akhir Januari lalu, terjadi aksi serupa oleh guru yang mengatasnamakan Forum Korban Sertifikasi (Forbanser). ”Kami ke sini meminta keadilan untuk teman-teman kami, 183 orang yang tidak lulus sertifikasi. Sebelumnya, diumumkan kami harus mengulang proses sertifikasi mulai dari nol, yaitu membuat portofolio baru, jelas kami tidak setuju. Kami sudah memunyai portofolio yang lama, kenapa kami harus mengulanginya dari awal?” urai Ketua FPK PLPG 2008, Saroni BSc, SPd. Dikatakan Saroni, jika pihaknya harus mengulang dari awal, selain proses penyusunannya memakan banyak waktu, juga memakan biaya cukup banyak. ”Biaya pembuatan portofolio sekitar Rp 900.000 sampai Rp 1.200.000,” imbuh Saroni yang mengajar di SMK Wisnuwardhana Kota Malang ini. Lebih lanjut Saroni menginginkan pihaknya tidak harus mengulang proses sertifikasi mulai awal lagi. Pasalnya, berdasarkan undangan yang diterimanya pada Oktober 2008, Ia bersama teman-temannya di FPK PLPG sudah lulus PLPG, sebuah jenjang sebelum kelulusan sertifikasi. ”Dengan demikian tidak ada dasar bagi PSG Rayon 15 UM untuk mewajibkan kami mengikuti penilaian portofolio. Apalagi dikaitkan dengan keputusan, bagi peserta PLPG 2008 karena alasan tertentu seperti naik haji maupun sakit, langsung menjadi peserta PLPG 2009 tanpa mengulang lagi pembuatan portofolio,” jelas Saroni.

sumber : Koran Pendidikan