Arsip untuk Juni, 2009

Membaca bisa dimana saja dan kapan saja

Membaca bisa dimana saja dan kapan saja

JAKARTA — Pemerintah tahun ini menyiapkan bantuan operasinoal sekolah (BOS) buku teks pelajaran untuk siswa SD dan SMP senilai Rp 3 triliun. “Dana itu disiapkan untuk pengadaan lima buku teks pelajaran bagi siswa SD dan SMP,” kata Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Dodi Nandika di sela pameran buku sedunia, Jumat (19/6).

Menurut Dodi, tahun lalu pemerintah sudah mengeluarkan BOS buku pelajaran sebanyak lima judul. Hingga saat ini total buku teks pelajaran yang dibeli dengan dana BOS buku mencapai 10 judul. Dengan begitu, program BOS buku pelajaran untuk 10 judul tahun ini sudah terlaksana semuanya.

Apakah setelah ini masih ada BOS buku untuk sekolah-sekolah? Mantan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdiknas ini belum bisa mamastikan. Dodi hanya berucap, “Yang jelas tahun ini program BOS buku pelajaran dari kami sudah tuntas.”

Selain BOS buku, menurut Dodi, Depdiknas juga akan membeli hak cipta buku pelajaran dan buku-buku pengayaan lainnya. Tahun lalu sudah lebih dari 400 judul buku dibeli hak ciptanya. “Ke-400 judul buku tersebut kini disiarkan bebas dan bisa diakses oleh masyarakat yang membutuhkan melalui website atau jaringan internet secara cuma-cuma. Silakan gandakan sebanyak mungkin,” katanya.

Dodi memastikan bagi para pengarang buku pemula yang kesulitan dana disiapkan block grant senilai Rp 10 juta per orang. Dana ini bisa digunakan untuk upaya-upaya mengumpulkan bahan-bahan, referensi, dan menyusunnya.

Iklan
Pendidikan Sebuah Pengabdian

Pendidikan Sebuah Pengabdian

Sebagai salah satu guru yang sudah hampir 18 tahun mengajar, baru tahun 2008 tadi diuji untuk mendapatkan hak sertifikasi — padahal kawan-kawan yang baru dua tiga tahun pengalaman mengajar sudah lulus di tahun 2007.

Bagaimanapun saya harus menahan hati, karena pengalaman salama ini protes sana-sini tidak banyak membuahkan hasil, alih-alih kita bisa masuk ke permasalahan yang lebih rumit. Namun, yang satu ini sungguh-sungguh keterlaluan.

Sebagai PNS guru di Depag Kota Palangkaraya yang mengajar Mapel Umum, kami mengikuti/menyerahkan fortopolio ke Unpar (Universitas Palangkaraya), sedangkan teman-teman yang mengjajar Mapel Pendidikan Agama Islam (PAI) menyerahkan fortopolio ke IAIN Antasari Banjarmasin. Alhasil, setelah pengumuman kelulusan, kawan-kawan yang mengikut ke Unpar tertulis di sertifikat kelulusan bulan Januari 2009, sedangkan yang mengikut ke IAIN Antasari Banjarmasin tertulis bulan Desember 2008.

Gara-gara beda penulisan tanggal/bulan/tahun di sertfikat berakibat fatal. Yang tertulis bulan Januari 2009 baru bisa menerima tunjangan sertifikasi di tahun 2010, dan teman-teman yang mengikut di IAIN Antasari (tertulis Desember 2008) akan menerima tunjangannya TMT Januari 2009.

SUNGGUH TIDAK MASUK AKAL DAN SANGAT MERUGIKAN