Arsip untuk Agustus, 2009

esa anas oke

Dalam beberapa kesempatan “nonton bareng” acara TV dengan anak-anak, maka bisa dipastikan akan terjadi perdebatan dan perebutan remote control, dan ”kesepakatan damai akhir”, saya harus mengalah mengikuti acara sinetron yang memang digemari anak-anak.

Namun untuk satu kali ini anak-anak harus menyerah mengikuti selera bapaknya browsing berita di televisi-televisi berita. Kebetulan pada saat itu sedang hangat-hangatnya pemberitaan tentang Malaysia dan perburuan Nordin M. Top cs. Saya tidak mungkin lagi memfilter tayangan penyiksaan TKW, penciplakan lagu dan seni budaya Indonesia oleh Malaysia, peristiwa tragis meledaknya bom di hotel JW Meriot dan Rich Carlton, ulasan tokoh-tokoh dibalik pemboman dan lain-lain..

Saya sungguh tidak bisa menikmati secara utuh tayangan ini, karena harus menjadi penterjemah pertanyaan-pertanyaan anak-anak saya. Pertanyaan ini kedengaran sederhana tapi cukup bikin pusing mencari jawaban yang tepat.

”Mengapa Malaysia jahat, Pa?”

”Malaysia itu dimana, Pa?”

”Kasihan orang-orang itu Pa, kenapa polisi tidak menangkap Malaysia?”

”Malaysia itu suka menciplak ya Pa?”

”Mengapa teroris bunuh orang Pa?”

”Mengapa kyai jadi teroris Pa?”

(pertanyaan yang ini harus langsung saya respon: ”Mereka bukan kyai, pakaiannya saja seperti kyai. Seperti kebanyakan maling atau koruptor, mereka jahat tapi pakaian mereka seperti pejabat yang bersih)

Dari sekian banyak respon anak-anak ini, satu pernyataan yang saya kira membuat bulu kuduk saya berdiri :

”Pa, kalau sudah besar, saya ingin menjadi polisi. Saya ingin gebukin Malaysia dan teroris yang jahat itu.”

Hayoo…Malaysia dan terorist, bantu saya menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anak saya yang polos dan serba ingin tahu ini.

Blank, Sibuk or Malas?

Posted: 09/08/2009 in My Folder
The Oldest

Where are you my friends...?

Melihat blog yang lama terpampang tanpa perubahan, sungguh menyedihkan. Kita senang saja melihat counter grafik pengunjung yang kian bertambah, namun disisi lain tulisan-tulisannya terbaring hampa tanpa ada tambahan baru.

Ada banyak alasan untuk pembenaran ini; sebagai guru di sebuah sekolah yang memerlukan energi besar untuk pembenahan-pembenahan di tahun ajaran baru, atau mengurus beberapa organisasi yang sebagian besar under my control, atau yang paling enak karena sibuk ….. sibuk …. dan sibuk.

Sibuk…? Ya, sibuk mikirin bom Kuningan, sibuk menganalisa dimana persembunyian Noordin M Top, sibuk menjadi saksi penyerbuan markas teroris, sibuk menafsirkan seorang Mbah Surip yang seperti seorang sufi, sibuk merenung Om Rendra yang mudah-mudahan khusnul khotimah, sibuk mengikuti lajur KPK yang seperti geng kecil yang digelandang geng besar, sibuk mengatur nafas karena kabut asap hasil pembakaran menyesak dadak, sibuk mengotak-atik pc-ku yang kena virus and malware, sibuk mencari dana tambahan untuk melanjutkan studi S-2, sibuk menambal lubang gaji yang 80% bobol karena dipotong hutang, sibuk menghayal gaji tunjangan profesional yang semakin buram — padahal yang masa kerjanya di bawah saya ( < 15 tahun ) sudah dibayar.

Atau memang aku sedang “blank?”. Tafsir sendiri lah …! Mungkin sibuk, atauwa malas…sssss, or memang blank…….?