MAGRIB MENGAJI, PILAR UTAMA PENDIDIKAN KARAKTER

Posted: 26/03/2012 in My Folder
Tag:, ,

            Orang tua macam apapun sangat berharap anak-anak mereka memiliki kecerdasan  religius dalam kehidupan sehari-harinya, karena bagaimanapun mereka akan banyak mendapat manfaat, seperti perilaku disiplin, rajin, hormat dengan orang tua, menghargai sesama, jujur, berani,  bertanggungjawab, dan yang terpenting tentu saja akan menyelamatkan diri dan kedua orang tuanya dari ancaman-ancaman kubur maupun di hari akhir.

Di sisi lain, realitas menunjukan banyak orang tua prihatin dengan trend anak-anak remaja mereka yang menghabiskan waktu sore menjelang sholat magrib hingga waktu sholat Isya dengan jalan-jalan sore, memadati mall atau pusat-pusat perbelanjaan, nongkrong di sentra keramaian atau caffe, dan di warnet-warnet game online. Padahal waktu prime time tersebut para orang tua sejujurnya menginginkan anaknya berada di rumah, bersih dan rafi, mendirikan sholat magrib, dan membaca Qur’an (mengaji) meskipun hanya beberapa halaman, mengerjakan hal-hal kecil dengan keluarga, berbagi cerita dengan orang tua atau saudara, lalu kemudian sholat Isya berjamaah.

Dan itu, hampir tidak pernah kita lihat lagi akhir-akhir ini. Orang tua kehabisan akal, menyalahkan sana sini, mematikan televise ketika azan magrib akan mendapat perlawanan dari anak-anak dan mungkin istri atau suaminya sendiri, dan kelamnya, tidak sedikit diantara kita justru menjadi candu nonton bareng sinetron di televise, cerita berganti cerita, chanel demi chanel, suara azan Magrib tidak terdengar lagi karena kalah nyaring dan sound TV, sehingga jangankan Magrib mengaji, sholatnya pun tertinggal.

Dan yang lebih mengerikan lagi seperti yang dilaporkan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang dirilis Kalteng Pos edisi 1 Maret 2012, yang menyebutkan bahwa anak usia 12-13 tahun (usia Sekolah Dasar) telah melakukan hubungan seks, dan angkanya tidak main-main untuk kota Palangka Raya saja telah mencapai 5,13%. Angka bertambah naik bagi usia 14-15 tahun (usia SMP) yakni 30,77%, dan semakin gila lagi anak pada usia 16-17 tahun yakni 48,72%.  Itu artinya separuh anak usia SMA telah melakukan hubungan seks.

Orang tua mana yang tidak khawatir dengan fenomena ini?

MENGAPA MAGRIB MENGAJI

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)    pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar dan luar sekolah, akan tetapi juga melalui pembiasaan (habituasi) dalam kehidupan, seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung-jawab, dan sebagainya. Pembisaan itu bukan hanya mengajarkan (aspek kognitif) mana yang benar dan salah, akan tetapi juga mampu merasakan (aspek afektif) nilai yang baik dan tidak baik serta bersedia melakukannya (aspek psikomotorik) dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat.

Sejalan dengan dengan itu, Menteri Agama H. Suryadharma Ali mencanangkan Gerakan Maghrib Mengaji (Gemar Mengaji) pada pembukaan Seleksi Tilawatil Quran Nasional (STQN) XXI di Banjarmasin tanggal 18 Juni 2011. Pencanangan magrib mengaji memiliki peran strategis membentuk jiwa dan kepribadian anak, karena melalaui kegiatan meningkatkan pengajaran nilai-nilai al-Qur’an, anak-anak dan remaja akan mendapat perhatian penuh dari orang tua melalui kegiatan mengaji bersama. Dengan demikian anak bukan saja mendapat suasana nyaman berkumpul dengan orang tua atau keluarga, akan tetapi penerapan nilai-nilai agamis akan lebih mudah dialirkan melalui sendi-sendi spiritual.

Magrib mengaji jelas bukan hanya sekedar ritual keagamaan, namun salah satu elemen pokok pembangunan entitas-entitas pendidikan, menciptakan proses naturalisasi sosial, membentuk kepribadian-kepribadian serta memberi berbagai kebiasaan baik pada anak-anak yang akan terus bertahan lama. Dalam Islam, keluarga merupakan sub sistem penting bagi pembentukan sistem masyarakat yang lebih luas. Penanaman nilai akan lebih efektif jika dilakukan oleh lembaga keluarga. Hal ini disebabkan keterikatan emosional dalam keluarga menjadikan sosialisasi dapat berjalan lebih cepat dan mengakar.

BEBAS BUTA BACA QUR’AN

Tepat di hari Milad atau hari ulang tahun ke-15 pada tanggal 3 Maret 2012, MTSN2 Palangka Raya menyelenggarakan dua even besar, yakni kegiatan Khatam Qur’an dan pencanangan MTSN 2 bebas buta baca Al-Qur’an.

Kegiatan Khatam Qur’an yang dibarengi dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah sebuah puncak harapan bagi siswa setelah sejak bulan Agustus 2011 atau tahun ajaran baru 2010-2011 dimulai, setiap pagi selama 25 menit, sebelum memasuki ruang belajar seluruh siswa diwajibkan mengaji secara bersama-sama (tadarus). Khatam atau tamat karena mereka telah resmi menamatkan bacaan Qur’an secara penuh, dan ini adalah kebanggaan yang luar biasa bagi orang tua muslim manapun, khususnya di MTSN 2 palangka Raya.

Rasa bangga telah khatam Qur’an akan menjadi langkah awal bagi anak-anak untuk bertanggungjawab di hadapan orang tuanya maupun kerabatnya atas “ijazah” tamat tersebut. Disinilah posisi strategisnya pencanangan bebas buta baca Al-Qur’an dimulai.

Para guru agama memaklumi, sebagian besar anak masih dalam kategori tidak lancar atau terbata-bata dalam membaca Al-Qur’an. Selain faktor latar belakang pendidikan ketika di Sekolah Dasar, kegiatan mengaji tidak mereka dapatkan dalam rumah tangga, sehingga dalam kegiatan tadarus, mereka cendrung hanya mengikuti bacaan guru yang sengaja dinyaringkan melalui mikrophone.

Pencanangan MTSN 2 Bebas Buta Baca Qur’an yang dicanangkan oleh Kakanwil Kementerian Agama Kalteng setelah acara Jalan Sehat keluarga besar MTSN 2, memiliki makna bahwa siapa saja siswa yang tidak lancar atau terbata-bata atau apalagi tidak bisa samasekali membaca Al-Qur’an akan menanggung resiko tidak naik kelas atau tidak lulus.

Langkah ini menjadi strategis, karena dengan demikian akan banyak orang tua mencarikan guru private mengaji di rumah, dan waktu yang paling efektif tentu setelah sholat Magrib, sehingga diharapkan kelak suara-suara merdu anak-anak belajar mengaji menjadi “nyanyian” indah menghiasi rumah-rumah keluarga islami.

Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s