Madrasah Menjadi Alternatif Favorit

Posted: 03/11/2013 in My Folder
Tag:

DSCN0462hJenjang pendidikan setingkat MTs di Palangka Raya dalam dua tahun terakhir sangat meningkat tajam. Mesti sejumlah madrasah mencoba “menghadang” derasnya laju minat siswa tersebut dengan menambah jumlah ruang belajar namun tetap saja kewalahan dan terpaksa harus melepaskan sejumlah siswa yang tidak terjaring tes. Alur untuk masuk pun dibuat jelimet, sejumlah instrumen penilaian, mulai dari rapor, ijazah, tes tertulis sampai tes kemampuan baca tulis Al-Qur’an. Mungkin lebih jelimet dibanding dengan sekolah umum yang hanya mensyaratkan nilai ijazah (SKHUN) dengan sistem ranking. Mbak sebuah primadona, dari sekian jumlah orang tua yang berebut masuk ada saja orang tua yang berani menyumbang ratusan juta rupiah (berupa bangunan fisik) sebagai tanda terima kasih dan amal jariah. Unik memang.

Secara umum ada tiga kekhasan madrasah (di Palangka Raya khsusnya) yang penulis catat menjadi salah satu icon, pertama: Acara mengaji (membaca Al-Qur’an) yang diselenggarakan setiap hari di awal pelajaran pagi selama 30 menit sehingga setiap tahun anak-anak madrasah dipastikan tamat. Jadi bisa dipastikan selama tiga tahun di madrasah mereka tiga kali tamat Qur’an. Substansi dari hiden curriculum ini, anak-anak yang awal masuk tidak bisa mengaji akhirnya bisa dan lancar kemudian sebagaimana biasa warga muslim Kalimantan, memiliki anak yang tidak tamat mengaji (apalagi tidak bisa mengaji) adalah perihal yang sangat memalukan.

Yang kedua, aplikasi keagamaan yang secara “cash” diterima anak-anak berupa hapalan-hapalan surat pendek dan pengetahuan sholat dan prakteknya yang banyak mengilhami orang tua siswa dari kalangan abangan. Salah satu orang tua mengungkapkan, “anak saya tidaklah terlalu pintar, makanya saya pilih madrasah, andai dia tidak pintar saya masih dapat untuk memiliki anak yang pandai agama dan menghormati orang tua, dari sekolah umum, kalau bodoh ya bodoh benaran.”

Ketiga, fakta menarik lainnya yang menjadi daya tarik madrasah adalah kemampuan mereka mengakomodasi energi anak-anak dalam kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler. Kalau dulu beberapa item ektra kurikuler hanya dimiliki sekolah umum, maka saat ini madrasah (walaupun sementara ini hanya dimiliki madrasah negeri) telah memiliki itu semua dan bahkan lebih lengkap, dan tidak mengherankan justru even-even seni dan olah raga sekarang banyak bergeser ke madrasah-madrasah. Lihat saja di media-media cetak, kegiatan Pramuka, PMR, sepak bola, pencak silat, karate, pidato (Indonesia dan Inggris); drum band, sanggar tari dan lain-lain, nama madrasah selalau bertengger pada nominasi-nominasi penting dan tidak jarang menjadi wakil provinsi di even-even nasional.

Kelima, tidak bisa dipungkiri siswa-siswa madrasah hampir jarang terdengar terlibat kriminal seperti perkelahian antar pelajar, menjadi anggota geng-geng negatif atau menjadi pentolan-pentolan preman kampung. Sebaliknya, siswa madrasah muncul di surau-surau dan masjid, di ajang-ajang lomba seni budaya dan berada di garis terdepan dalam even keagamaan.

Mungkinkah demikian selamanya? Tidak ada yang tahu, namun yang pasti bila pimpinan tidak benar maka mustahil akan menghasilkan kebaikan-kebaikan. Wallahuala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s