Writed by Muhammad Irsani

Sebuah lompatan luar biasa, dua madrasah setingkat tsanawiyah (SMP) telah menerbitkan jurnal ilmiah, sebuah majalah berisikan konten “berat” yang selama ini hanya dimiliki oleh perguruan tinggi besar dengan penulis bertitel profesor atau doktor. Bukan main-main, selain dibelut kertas art paper 180 gsm mengkilap dan halamannya HVS berkualitas, Jurnal Lensa Madrasah (JLM) yang diterbitkan oleh MTsN 2 Palangka Raya dan Jurnal Shaza (JS) diterbitkan oleh MTsN 1 Palangka Raya, masing-masing telah memiliki ISSN resmi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), JLM dengan nomor 005.24776599/JI.3.01/SK.ISSN/2015, dan JS dengan nomor 0005.25023942/JI.3.1/SK.ISSN/2016.

Jpeg

foto: doc pribadi

Berdasarkan data ISSN LIPI ada 22 madrasah setingkat MTs dan 17 SMP se Indonesia yang memiliki majalah ilmiah, selain itu ada juga yang diterbitkan oleh forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), namun menariknya hanya ada tujuh MTs yang lebih spasepik menempatkan dirinya sebagai jurnal ilmiah murni (tulisan berdasarkan hasil penelitian) yakni MTs Al-Ihsan Ciamis, MTs Negeri 2 Model Palembang, MTsN Model Palopo, MTsN I Model Palangkaraya, MTsN Banjar Selatan 1 Kota Banjar Masin, MTs. Negeri 2 Palangka Raya, MTsN Banjar Selatan 2, selebihnya hanyalah majalah ilmiah umum dan  majalah yang berisikan informasi kegiatan madrasah.Read more

Publikasi Ilmiah

         Tujuan utama publikasi ilmiah para guru (khususnya) memiliki keterkatian dengan Keptusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang penetapan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 14 tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, guru dituntut untuk membuat kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan berupa pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovatif sebagai syarat mutlak untuk kenaikan pangkat/jabatan mulai dari III-a, dan lebih selektif lagi di golongan IV.

Dengan membuat penerbitan sendiri oleh sekelompok guru di masing-masing sekolah/madrasah atau oleh kelompok guru pada forum MGMP dimaksudkan agar memperpendek jalur dan memperluas kesempatan. Menerbitkan tulisan pada jurnal ilmiah yang dimiliki perguruan tinggi atau lembaga-lembaga ilmiah lainnya tentu bukan perkara mudah, selain lembar halamannya terbatas dan jumlah antrian yang terlalu panjang, karya tulis guru belum tuntu bisa lolos dari tangan editor yang bertitel doktor atau professor.

Meskipun publikasi ilmiah itu sendiri bukanlah semata hanya melalui penerbitan hasil karya tulis dalam jurnal ilmiah, tetapi bisa berupa presentasi dalam forum ilmiah misalnya menjadi nara sumber, membuat modul pembelajaran yang riil digunakan di sekolah, menulis buku pelajaran, karya tulis ilmiah populer yang dimuat di media masa dan karya tulis ilmiah yang dimuat di jurnal atau malajah ilmiah.

Jurnal Reflektif

Jurnal reflektif adalah salah satu metode refleksi diri guru melalui catatan refleksi dan evaluasi diri guru atau hal-hal menarik yang terjadi didalam kelas (Scales: 2011). Sebagaimana Permendiknas No 16 tahun 2007 tentang kompentensi guru disebutkan guru senantiasa harus melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Meskipun terasa rewel dan membutuhkan waktu ekstra, membuat catatan tentang temuan-temuan menarik selama proses pembelajaran wajib dilakukan oleh seorang pengajar.

Refleksi yang dilakukan tentunya berkaitan dengan tugas seorang guru, yakni membuat catatan setelah selesai melaksanakan proses belajar mengajar di kelas, antara lain merefleksikan tentang metode atau model pembelajaran yang sudah digunakan, tentang materi ajar yang disampaikan, merekam respon siswa, dan refleksi juga dilakukan guru pada saat kegiatan pembelajaran akan berakhir atau pada kegiatan penutup.

Rambu-rambu penulisan reflektif agak mirip dengan langkah awal dalam pembuatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), seperti mendeskripsikan apa saja yang menarik selama proses pembelajaran, mencatat hal-hal yang baik dan tidak baik, menganalisis peristiwa-peristiwa unik, mencatat solusi apa dan bagaimana, dan membuat rencana yang seharusnya dilakukan ke depan. Terhadap peristiwa khusus, tulisan hasil fefleksi ini bisa saja dijadikan sebuah PTK agar kasus-kasus serupa dan bagaimana tindakan yang diambil bisa dimanfaatkan guru-guru lain yang memiliki persoalan yang sama.

Menyusuri benang merah fenomena semangat guru dalam publikasi ilmiah melalui penerbitan sendiri, penulis berkeyakinan justru tulisan-tulisan ilmiah seperti inilah yang memiliki kaitan langsung dengan keperluan guru, selain bermanfaat dalam upaya perbaikan proses belajar mengajar, PTK/S akan memberikan impact untuk kenaikan jengjang kepangkatan guru. Dibandingkan dengan KTI yang penulis perhatikan mirip hasil skripsi atau tesis, di mana dalam proses pembuatannya harus melalui prosedur panjang, menyita pikiran (antara lain: pembuatan proposal, persetujuan pembimbing dan seminar, penelitian lapangan, sidang hasil penelitian dan seterusnya), serta yang tidak kalah penting adalah nominal biaya yang tentu tidak sedikit.

Dikhawatirkan, jurnal ilmiah yang sudah demikian bagus dan dibuat semarak saat launching akan berumur seperti jagung. Pengelola jurnal akan kesulitan mengisi konten yang ditebitkan pada edisi yang akan datang. Mengharapkan tulisan dari dosen-dosen perguruan tinggi rasanya terlalu sulit, selain jurnal tersebut bukanlah “level” mereka, mungkin saja mereka khawatir hasil karya yang susah payah dibuat ditertawakan asesor karena dianggap tidak berani bersaing di jurnal representatif.

Bagaimana Sebaiknya?

Bukan maksud menggurui para guru yang memang cukup berpengalaman, penulis yang juga sebagai user dan senang membaca hasil tulisan teman-teman guru, mengharapkan, sebaiknya tulisan tidak perlu dan tidak harus hasil skripsi atau tesis yang tidak ada kaitannya langsung dengan kepentingan madrasah, justru yang lebih diperbanyak adalah hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang jelas berkaitan langsung dengan problem guru; pengelolaan jurnal sebaiknya tidak dipersempit dalam kelompok sekolah/madrasah agar terhindar dari “dehidrasi” penulis sehingga berakibat terhambatnya penerbitan karena terbatasnya karya ilmiah yang dimiliki guru; agar lebih menarik, konten tidak melulu berisikan kaya tulis ilmiah namun dibarengi dengan informasi-informasi aktual dan bermanfaat tentang dunia pendidikan, baik yang bersifat lokal, nasional dan international; kertas cover dan lembar halamannya cukup kertas standar biasa agar tidak membebani keuangan madrasah dan halamannya bisa lebih banyak, sehingga lebih banyak guru yang berpartisipasi; dan yang terpenting hindari tulisan copy-paste, baik sedikit lebih-lebih banyak, baik itu berupa ide atau konten langsung. Ini adalah sebuah bentuk pelanggaran hak cipta, memalukan dan berakibat fatal, serta memiliki resiko hukum di mana berdasarkan UU No. 19 Tahun 2002 bisa dipidana penjara maksimal selama tujuh tahun dan minimal dua tahun, sedangkan pidana dendanya maksimal Rp. 5 miliar rupiah dan minimal Rp. 150 juta rupiah.

Karya tulis hebat bukan hanya karena pilihan diksi yang bagus atau konten yang menarik, tetapi karena lahir dari ide natural dan buah dari kejujuran.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s